Al-Huda 2014: Open House BMW, Bedah Buku Indonesia Mengajar

            Selasa (30/4), pukul 16.00 WIB, Pendopo Tejokusuma lagi-lagi dipadati oleh mahasiswa FBS dalam rangka memeriahkan acara kedua dari serangkaian Open House Al Huda 2014 yang diselenggarakan oleh Bidang Media dan Wacana Al Huda, yaitu Bedah Buku yang mengangkat tema “mengilhami kisah para pengajar muda di ujung negeri”.

            Sesuai dari tema yang diangkat pada sore ini, buku yang dikupas berjudul “Indonesia mengajar”. Buku karya pendidik-pendidik dari program Indonesia Mengajar yang digagas oleh seorang tokoh politik yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, Anies Baswedan, ini sesuai dengan judulnya, yaitu membahas keadaan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Hal yang melatar belakangi diangkatnya buku “Indonesia Mengajar” dalam acara bedah buku ini adalah selain dalam rangka memperingati hari pendidikan pada tanggal 2 Mei kelak, juga dikarenakan para pendidik di Indonesia akhir-akhir mulai menurun kualitasya.Image

            Pembicara pada agenda sore hari ini pun sudah tidak asing lagi akan prestasi dan kemampuan akademiknya, yaitu Mifta Damai R, S.sos, mahasiswa lulusan terbaik se-UNY 2013, dan Ustadz yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan akademik dan organisasinya, yaitu Ustadz Triyanto Puspito Nugroho, S. Pd, ketua BEM FIS tahun 2007. Acara yang dipandu oleh Mutiara Laillia C.N ini diawali oleh Mifta Damai yang menjelaskan mengenai kesannya setelah membaca buku “Indonesia Mengajar”.

Menurut Mbak Mifta, buku ini sangat menarik dan membuat para pembaca sadar bahwa masih banyak para pelajar yang membutuhkan pendidikan yang lebih layak lagi, terutama di daerah-daerah terpencil. Seperti yang sudah diceritakan oleh Anies Baswedan dalam cerita yang berjudul “Kelas Ajaib”. Di cerita ini beliau menceritakan bahwa terdapat sebuah kelompok atau kelas yang di dalamnya tidak seperti anak-anak normal lainnya. Mbak Mifta juga menambahkan, buku ini mampu menambah motivasi para pendidik untuk berkeinginan berbagi ilmunya trhadap para anak-anak di daerah terpencil, dan memberikan motivasi tersendiri bagi para mahasiswa untuk mengikuti program SM3T. Harapan dari Mbak Mifta untuk para pembaca adalah setelah membaca buku “Indonesia Mengajar” timbul keinginan untuk mengabdikan dirinya di daerah terpencil untuk membangkitkan kembali para pemimpi-pemimpi.

Image

            Pembicara kedua, yaitu Ustadz Mekel pun menjelaskan kesannya setelah membaca buku “Indonesia Mengajar”. Ustazd Mekel salut terhadap buku ini karena menurutnya buku “Indonesia Mengajar” adalah salah satu bentuk apresiasi positif sebagai dokumentasi sejarah terhadap dunia kependidikan. Ustadz Mekel pun menambahkan sedikit kritikan, menurutnya di dalam buku hanya menjelaskan apa yang para pengajar dapatkan di saat mengajar di daerah terpencil dan tidak menjelaskan apa yang sudah diberikan untuk para pelajar. Buku ini sesuai dengan probelematika yang kebanyakan dipikirkan oleh para pemuda, yaitu cinta dan profesi. Buku ini membuat para pemuda memikirkan profesi tidak hanya melihat seberapa gaji yang akan diterima, namun juga apa yang dapat dia berikan. Bukan hanya materi yang diberikan di saat mereka mengajar di daerah terpencil, namun juga memberikan tenaga, waktu dan inspirasi.

Image

Inspirasi inilah yang sangat penting dimiliki oleh anak-anak. Sesuai dengan kata Anies Baswedan di dalam bukunya tersebut, bahwa satu tahun mengajar seumur hidup menginspirasi, karena memang lewat inspirasilah anak-anak mampu berkembang dan berani bermimpi. Karena memang semua berawal dari harapan, Ustadz Mekel menjelaskan contoh konkretnya yaitu seperti slogan Obama saat dia akan mencalonkan menjadi presiden Amerik, yaitu “Change, yes we can”. Lewat harapan yang diberikan oleh Obama kepada masyarakat, dia mampu memenangkan menjadi presiden Amerika. Di akhir penjelasannya, Ustazd Mekel mengatakan bahwa buku yang baik bukan buku yang isinya yang dipenuhi fakta dan argumen yang kuat, namun buku yang baik adalah buku yang walaupun isinya salah namun mampu mengispirasi dan memberikan perubahan pembacanya menjadi lebih baik lagi.

Dan ketika mereka memberikan closing statement mereka berpesan :
Mbak Mifta : jadilah seperti lampu jalan, walaupun cahaya yang dihasilkan tidak seterang bulan, namun cahaya lampu jalan tetap dibutuhkan.

Ustadz Mekel : lakukanlah sesuatu dari yang dekat-dekat dahulu. Dan orang-orang yang mampu menginspirasi adalah orang yang sudah selesai dengan urusannya sendiri.

 (Aini/RA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s