Al-Huda 2014: BSBK, Dialog Kebudayaan dalam perspektif Islam

Jumat, 9 Mei 2014 puku 14.00 WIB bertempat di gedung Cine Club FBS dipadati oleh para mahasiswa FBS dalam rangka untuk mengikuti acara Dialog Kebudayaan Dalam Prespektif Islam yang merupakan bagian dari serangkaian acara Open House Al-Huda 2014 yang di selenggarakan oleh bidang Seni Budaya dan Kreatifitas Al-Huda.  Hal yang melatarbelakangi acara dialog budaya ini adalah agar peserta menambah pengetahuan mengenai bagaimana  seorang muslim mampu mengemas seni budaya secara Syari.

Acara diawali dengan penamipan dari BSBK Management yang membawakan dua buah lagu dengan tema islami, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah dalam tiga bahasa yaitu bahasa Indonesia, bahasa jawa dan bahasa Sunda. Dalam Sambutannya saudara subhan Abrori menyampaikan bahwa seorang muslim juga diperbolehkan untuk berkarya asalkan mentaati aturan-aturan yang telah berlaku.

Pembicara pada agenda sore hari ini pun sudah tidak diragukan lagi akan prestasi dan kemampuannya dalam hal seni budaya, yaitu Ust. Kuncoro, seorang ustad yang kerap bergelut dalam hal seni budaya dan Suwardi, M.hum, seorang dosen bahasa Jawa di Fakultas Bahasa dan Seni.

Saudara Andreas Agil selaku moderator menyampaikan sedikit pemantik bahwa   kebanyakan orang menyebut budaya itu memiliki dua mata sisi yaitu sisi baik dan buruk padahal budaya terlahir karena manusia memiliki akal pikiran, jadi segala hal  yang tidak dilakukan dengan akal pikiran bukanlah budaya. Budaya sendiri haruslah memenuhi tiga unsur yaitu logika, etika dan estetika. Dengan ini jelaslah bahwa tidak ada yang namanya budaya buruk. Budaya korupsi tidaklah ada karena tidak memenuhi tiga unsur budaya yaitu logika, etika dan estetika.

Acara harus terhenti untuk melaksanakan sholat ashar. Setelah melaksanakan sholat ashar peserta dihibur kembali dengan penampilan dari BSBK Management yang menampilkan pementasan musik keroncong dengan lagu bengawan solo dan keroncong bandar Jakarta.

Pembicara pertama Ust. Kuncoro menyampaikan bahwa Kebanyakan orang selelu berpikir bahwa seni itu akan selalu berebenturan dengan syariat agama padahal Al-Quran yang merupakan pedoman hidup umat muslim sangat dekat dengan seni, karena sebagian besar dari isi Al-Quran adalah kisah-kisah. Jadi jika ada seni sastra maka sebenarnya tinggallah memindahkan apa yang ada dalam Al-Quran. Berkesenian adalah cara menyampaikan pesan dengan cara yang lebih halus.

Pembicara kedua yaitu bapak suhardi menyampaikan bahwa Jika syari adalah masalah etika dan seni masalah estetika, beliau juga menyampaikan bahwa agama juga membutuhkan seni, misalkan pada kumandang Azan. Yang menjadi masalah dalam kesenian adalah jika suatu seni telah mengundang maksiat.

Masuk ke sesi tanya jawab salah satu peserta bernama Dedi menanyakan tentang bagaimana menyikapi hal-hal kesenian yang mengundang hawa nafsu?

Ust. Kuncoro menjawab secara manusiawi memang perempuan diciptakan dengan menarik. Itulah sebabnya dalam islam diajarkan ghodul bashor atau menundukan pandangan dan Jika itu melihat sekilas (tanpa disengaja) ada pemakluman.

Arif yang merupakan mahasiswa seni musik juga menanyakan mengenai bagaimana berdakwah melalui musik dan bagaimana jika dalam bermusik kita belajar aransemen-aransemen dari musik barat, sementara kebanyakan dari mereka bukanlah seorang muslim.

Ust. Kuncoro menjawab bahwa berdakwah adalah tugas semua umat islam dan kemudian jika seorang pemusik meniru sebagian dari musik-musik orang luar yang bukan seorang muslim tidaklah mengapa asalkan konten yang disampaikan adalah suatu kebaikan dan kebenaran sesuai islam. Hal itu semua tergantung pada siapa yang menggunakan dan bagaiamana cara menggunakannnya. Niat yang baik, dan nisi yang baik. Masud diturunkannya syariah yaitu menjaga akal, menjaga nasab, menjaga harta, menjaga kehormatan.

Monica selaku mahasiswa seni kerajinan menanyakan tentang bagaimana definisi budaya secara islam dan budaya secara umum.

Bapak Suwardi menjawab bahwa Kebudayaan adalah semua hasil karya dan proses kebudayaan kita.Hal yang dikhawatirkan adalah ketika kita sudah merekayasa (melakukan pembenaran) syariat untuk melegalkan seni.

Antusias para peserta di acara ini dibuktikan dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan kritis dari para peserta seperti yang dapat kita baca diatas. Namun karena waktu telah menunjukan pukul 17.20 maka berakhirlah acara Dialog kebudayaan dalam perspektif islam ini. Sudah tentu masih banyak hal-hal yang ingin ditanyakan dan waktu yang disediakanpun jelas tidak akan mencukupi untuk membahas tema yang menarik ini. Namun hal ini pasti justru akan membuat para peserta lebih bersemangat untuk menggali ilmu mengenai berkesenian dalam perspektif islam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s