Monolog: KITA

Ini bukan sepenuhnya kisah sedih seperti yang tersirat dalam petikan gitar di awal tadi.
Bukan.
Aku hanya tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku ini pada kalian sekarang.

Kalian dan aku berteman; mungkin berteman.
Aku menganggap seperti itu –karena yang kutahu bahwa kalian adalah orang yang bisa diajak untuk bersama-sama.
Dan, bersama-sama itu berteman.
Berteman itu bersama-sama.

Kemudian aku sadar.
Ternyata kalian tidak ingin menggunakan konsep yang sama dengan konsep yang ku utarakan tadi di awal saat kalian dan aku bersama.
Kalian ingin bebas; aku tahu. Kalian ingin lepas; aku paham. Tetapi, aku sungguh tak habis mengerti ketika kalian ingin memisahkan kebersamaan ini karena kalian dan aku berbeda.

Bagiku, itu alasan yang tidak realis sama sekali!

Kalian tahu, setiap manusia diciptakan berbeda.
Yang kembar pun akan tetap berbeda.
Kalian tahu itu, tetapi kalian abaikan itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Puisi: Kepada Saudaraku

Saudaraku,
biar cakrawala memecah sendi-sendi dari bongkahan perahu tempat kita bersemi menjadi mimpi ..
,biar matahari melelehkan kita, agar kau mengrti bahwa kita tak sanggup bert0pang pada nahk0da yang sama ..
,biar masa lalu itu (kurang lebih berbulan silam) sirna, berubah petang hingga ku tak mampu melihatmu, dan kau tak sanggup menjamaku ., sampai kita tak dapat lagi untuk saling bersapa memecah tawa menjadi warna ..

Baca lebih lanjut

Cerpen: Ziarah

ZIARAH

Kartika Nurul Nugrahini

(Juara I Lomba Cerpen dalam rangka Open House Al Huda 2011)

Bismillah. Pukul 06.42, kami berangkat. Inilah perjalanan pertamaku sebagai seorang guide menuju ke tempat yang bernuansa Islam. Perjalanan panjang ke Kudus harus kami lalui dengan arus yang semakin panjang karena dampak erupsi Merapi. Melewati Kartosura dan Surakarta. Karena merasa berat mata, aku sandarkan punggung di kursi. Entah berapa lama aku tertidur, ketika membuka mata, aku sudah sampai Kauman.

Sepanjang mata melayang, tidak pernah hilang dari rel kereta. Suatu pemandangan yang menyuguhkan keunikan tersendiri. Semakin jauh perjalanan yang kami tempuh, potret kehidupan semakin membuatku ternganga. Rumah didirikan di mulut sungai yang airnya berwarna hijau dibangun dengan gaya Kalimantan, mungkin sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu volum air itu naik. Tidak dapat kita sangkal, di sungai itulah mereka mengambil air untuk mandi, wudhu, mencuci ataupun memandikan binatang ternak.

Astaga. Dari dalam bis aku seperti mencium bau amis dan bau tidak sedap lain yang berasal dari tempat itu. Rumahnya tidak permanen, hanya terbuat dari kayu-kayu dan papan. Hal yang membuat keadaan itu tidak semakin buruk adalah atapnya menggunakan genting pada umumnya. Ukuran pun dominan sama, tidak lebih besar dari ruang tamuku. Dapatkah aku hidup secara sehat jika aku bermukim di sini? Mungkin tidak akan bertahan lama. Baca lebih lanjut